KEABSAHAN PERKAWINAN BEDA AGAMA DAN KEWENANGAN MENGADILI SENGKETANYA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ANTAR TATA HUKUM INDONESIA

Muhammad Adiguna Bimasakti

Abstract


Marriage is considered to be sacred in some cultures. In recent years the issue of interfaith marriage has become an issue that is being discussed again, especially since the case of Article 2 paragraph (1) of the Marriage Law No. 1 of 1974 in the Constitutional Court with Case Number 68/PUU-XII/2014 which, according to the plaintiff it is as if Article 2 paragraph (1) is considered to prohibit interfaith marriages in Indonesia. The question that will arise regarding this matter is whether it is true that interfaith marriage is prohibited in Indonesia? Then what about the legitimacy of interfaith marriage practices that had occurred? Which jurisdiction of the judiciary has the authority to hear related to interfaith marriage disputes? This paper tries to analyze and answer these questions in the context of the marriage law that applies in Indonesia and contemporary judicial practices in Indonesia


Keywords


Interfaith Marriage; Validity; Authority of Justice

Full Text:

PDF

References


I. BUKU

Gautama, Sudargo. Hukum Perdata Internasional Indonesia, Jilid Kedua Bagian Pertama, Jakarta: Kinta Djakarta, 1962.

_______. Hukum Perdata Internasional Indonesia. Buku Keempat. Bandung Alumni, 1989.

_______. Pengantar Hukum Perdata Internasional Indonesia. Bandung: Bina Cipta, 1987.

Ichtiyanto. Pernikahan Campuran dalam Negara Republik Indonesia. Jakarta: Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama RI, 2003.

Soekanto, Soerjono dan A. Pitlo. Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2013.

Mertokusumo, Sudikno. Mengenal Hukum (Suatu Pengantar), Cet. I. Yogyakarta: Liberty, 1986.

Bee, Peter Wynter. People Of The Day 2.Great Britain: People of the Day Ltd., 2007.

II. ARTIKEL JURNAL

Basuki, Zulfa D. Perkawinan Beda agama Dewasa Ini di Indonesia, Ditinjau dari Segi Hukum Antar Tata Hukum. (Jurnal Hukum dan Pembangunan, Juni 1987). hlm. 235-243.

III. PERATURAN

Badan Pembinaan Hukum Nasional. Naskah Akademik RUU Tentang Hukum Perdata Internasional, , diakses tanggal 48 Mei 2019.

https://www.thejournal.ie/jerry-hall-first-marriage-bali-mick-jagger-2543524-Jan2016/ diakses Tanggal 4 November 2018, pukul 20.17 WITA.

https://www.theguardian.com/world/1999/jan/19/5 diakses Tanggal 4 November 2018, pukul 20.17 WITA.

Indonesia. Undang-Undang Tentang Perkawinan. UU No. 1 Tahun 1974, LN No. 1 Tahun 1974, TLN No. 3019.

Nederlandsch Indie (Hindia Belanda). Burgerlijk Wetboek voor Nederlandsch Indie (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata). Afgekondigd bij publicatie van 30 April 1847 (Diundangkan dengan pengundangan Tanggal 30 April 1847), Stbl. No. 23.

Nederlandsch Indie (Hindia Belanda). Reglement op de Gemengde Huwelijken (GHR - Peraturan Tentang Perkawinan Campuran). Koninklijk Besluit van 29 Desember 1896 (Keputusan Raja), No.23 – Stb. 1898 No.158.

Nederlandsch Indie (Hindia Belanda). Huwelijksordonantie voor Christen Indonesiers (HOCI - Ordonansi Perkawinan Orang-Orang Indonesia-Kristen). Ordonantie van 15 Februari 1933, Stb. 1933 No. 74 Jo. S. 1936 No. 607.

Putusan Mahkamah Konstitusi RI No. 68/PUU-XII/2014 Tanggal 18 Juni 2015.

Surat Edaran Ketua Muda Urusan Lingkungan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI Nomor: 30/TUADAAG/III-UM/8/1993 tanggal 31 Agustus 1993.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.